Tinjauan Kritis Pembangunan Jalan Tol Indonesia: Implementasi ESG Menuju Infrastruktur Berkelanjutan

Infrastruktur jalan tol merupakan yang paling berkembang selama beberapa tahun terakhir untuk mendukung konektivitas. Salah satu isu adalah implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) menuju infrastruktur berkelanjutan. Sifat berkelanjutan memberi keseimbangan antara ekonomi, sosial dan lingkungan. Seringkali aspek ekonomi lebih ditonjolkan dibandingkan dan aspek lainnya, sehingga diperlukan tata kelola yang pro berkelanjutan. Demikian disampaikan oleh Ir. Ikaputra, M.Eng., P.hD selaku Kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM dalam Webinar Tinjauan Kritis Pembangunan Jalan Tol Indonesia: Implementasi ESG Menuju Infrastruktur Berkelanjutan. Webinar ini merupakan kerjasama antara Pustral UGM dengan HK ExperTalk, dan disponsori oleh PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII), pada Hari Kamis, 2 Mei 2024 Pukul 08.45 hingga 12.00 WIB.   

Selanjutnya Ir. Kimron Manik M.Sc, Direktur Keberlanjutan Konstruksi, Direktorat Keberlanjutan Kontruksi Kementerian PUPR selaku keynote speaker mewakili menyampaikan bahwa Industri Konstruksi merupakan penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar keempat, dengan peran sebesar 10,49% dan pertumbuhan 7,68% per tahun. Di sisi lain, Industri Manufaktur dan Konstruksi menjadi penyumbang terbesar ketiga sebesar 21,46% dari total Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Sektor Energi pada tahun 2019 sebesar 638.452 Gg CO. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi ekonomi hijau dengan pembangunan rendah karbon akan meningkatkan daya dukung lingkungan dan menurunkan emisi GRK seiring pertumbuhan PDB rata-rata Indonesia tahun 2025-2045 mencapa 6,22%. Emisi GRK diharapkan menurun sebesar 51,51% secara kumulatif tahun 2010 – 2045 atau secara tahunan sebesar 80,98% di tahun 2045 di bawah skenario business as usual, untuk dapat menuju net zero emissions di tahun 2060. Hal ini akan berdampak pada penurunan intensitas emisi sebesar 93,5% di tahun 2045 di bawah level 2010.  

Beliau menyampaikan bahwa integrasi pertimbangan ESG ke dalam proyek infrastruktur mencakup identifikasi dan mitigasi risiko lingkungan, sosial dan tata kelola, serta identifikasi dan optimalisasi manfaat sosio-ekonomi. Penerapan konstruksi berkelanjutan dalam pembangunan infrastruktur dilakukan dengan memperhatikan tiga pilar utama konstruksi berkelanjutan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri PUPR nomor 9 tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Konstruksi Berkelanjutan. Tiga pilar utama tersebut adalah: 1) mewujudkan penyelenggaraan konstruksi yang memberikan manfaat ekonomi dan mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkesinambungan melalui penyusunan program prioritas, efisiensi sumber daya, dukungan terhadap usaha lokal dan UMKM, 2) dapat mempertahankan kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan melalui penggunaan lahan tepat guna, konservasi energi, konservasi air, manajemen lingkungan, manajemen dan pengelolaan rantai pasok sumber daya konstruksi, 3) mewujudkan pembangunan yang bersifat adil, inklusif, dan mengurangi disparitas sosial sehingga berdampak pada pengurangan kesenjangan sosial melalui optimalisasi partisipasi masyarakat (dengan memperhatikan unsur gender, kaum disabilitas dan kaum marginal), pelestarian budaya atau kearifan lokal.  

Selanjutnya pembicara pertama, Bapak Dwi Susanto selaku Vice President of Environmental and Social PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) menyampaikan bahwa PT PII menjalankan Environmental and Social Management Framework (ESMF) untuk menjamin keberlanjutan proyek. ESMF merupakan seperangkat kebijakan, prosedur, dan perangkat untuk mengelola aspek lingkungan dan sosial mulai dari persiapan, konstruksi, dan pengoperasian untuk memastikan semua proyek sesuai dengan peraturan yang berlaku. Berdasarkan identifikasi Dampak Proyek yang dijamin oleh PT PII, GHG Emission merupakan dampak penting terutama terhadap pemicu perubahan iklim. Oleh karena itu, pengurangan emisi karbon merupakan pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan. 

Selanjutnya Dwi menyampaikan beberapa peluang dan tantangan penerapan ESG dalam pembangunan infrastruktur, diantaranya adalah sinkronisasi standard ESG antar key stakeholder yang berperan dalam pembangunan infrastruktur. Hal ini akan berdampak pada efisiensi waktu dan biaya dalam penyiapan proyek, pemberian jaminan pemerintah, dan pembiayaan proyek infrastruktur. Isu lain adalah implementasi skema KPBU dan pemberian dukungan fiskal terkait (yang mengedepankan prinsip ESG) kadang masih dianggap rumit, lama dan mahal. Hal ini merupakan tantangan dalam sinkronisasi proses dan komunikasi kepada stakeholders sehingga timeline proses dan biaya kajian ESG perlu dimasukan dalam proses penyiapan proyek. Isu selanjutnya adalah standar ESG dapat mendorong pembiayaan alternatif bagi pembangunan infrastruktur. Skema KPBU dan skema pembiayaan alternatif lainnya (termasuk penjaminan) sejalan prinsip ESG. Hal ini merupakan tantangan sehingga diperlukan penetapan standar ESG yang diterapkan dalam penyiapan Proyek dan tindak lanjut terhadap gap standar ESG dengan peraturan perundangan yang berlaku termasuk peraturan sektoral. Isu terakhir adalah penerapan ESG memerlukan sumberdaya manusia dengan kompetensi dan pengalaman khusus. Hal ini merupakan tantangan sehingga diperlukan peningkatan kompetensi sumberdaya manusia terutama di pihak PJPK untuk dapat memasukan prinsip ESG dalam proses penyiapan proyek dan BUP dalam menerapkan dan melaporkan implementasi ESG proyek.  

Pembicara selanjutnya Bapak Aldrin Maulana selaku Business Development Group Head PT Jasa Marga, menyampaikan materi Implementasi Environment, Social, and Governance (ESG) dalam Pembangunan Jalan Tol. Beliau menyampaikan bahwa PT Jasa Marga sudah menjalankan prinsip keberlanjutan sejak tahun 90an. Prinsip-prinsip ESG sudah diterapkan dari tahap perencanaan, pembangunan, operasi serta monitoring. Pada tahun 2023 beberapa program yang terkait dengan ESG diantaranya adalah Efisiensi air dan pemanfaatan kembali (water recycle), Efisiensi material/bahan, Penataan lanskap yang bersih, rapi, hijau dan estetis; Penggunaan energi baru terbarukan (PLTS Atap), Penyediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Rest Area/ Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP), Pembentukan Komite Tanggung Jawab Sosial & Lingkungan (TJSL), Penyempurnaan Program TJSL, dan Perbaikan Penyusunan Laporan Keberlanjutan. Aldrin menyampaikan bahwa PT Jasa Marga sudah mencapai hasil penilaian ESG yang cukup baik dari beberapa lembaga, misalnya S&P Global memberi nilai 29 atau kategori medium, Refinitiv memberi nilai 62 dari 100, BPKP memberi nilai 71,36% atau kategori Cukup Baik, serta Sustainalitic memberi nilai ESG Risk Rating sebesar 15,2 atau low risk. PT Jasa Marga juga sudah menyusun Peta Jalan Keberlanjutan Jasa Marga Periode 2024-2027.  

Pembicara selanjutnya Prof. (Ret) Dr. Ir. Chafid Fandeli, M.Sc selaku Peneliti Senior Pustral UGM menyampaikan tema Peluang Bisnis Tambahan dalam Pembangunan Jalan Tol dengan Pendekatan Green Technology. Beliau menyampaikan bahwa konsep pembangunan jalan tol perlu dikembangkan dengan paradigma baru untuk agenda nasional yang sekaligus memecahkan masalah nasional, diantaranya mendukung NZE (Net Zero Emission), mengembangkan penciptaan peluang kerja baru akibat dari memanfaatkan jasa lingkungan yang belum termanfaatkan, pembangunan yang meningkatkan nilai ekonomi lingkungan (environmental economics), kebijakan yang menghadirkan ekonomi hijau (green economic). Pembangunan jalan tol memiliki manfaat yang beraneka ragam dan dapat dikembangkan dengan konsep baru, diantaranya EVA (environmental value added), cradle to cradle tidak cradle to grave, green technology, green management, 3R (reduced, reused, recycle) dan green community. Konsep pembangunan jalan tol dengan prinsip sustainable development merupakan upaya mengembangkan bussines opportunity. Pengembangan dilakukan dengan prinsip-prinsip berwawasan lingkungan (cemaran udara dengan solusi upaya penyerapan emisi carbon dengan greenery development), pemberdayaan masyarakat (menciptakan peluang kerja saat pra, konstruksi dan operasional), pengembangan ekonomi lokal (penciptaan kegiatan green business), dan pemberdayaan budaya lokal dan kearifan lokal (village tourism). 

Webinar dihadiri oleh lebih dari peserta 1.469 yang berasal dari berbagai kalangan melaui channel Zoom meeting dan YouTube Pustral UGM. Sesi diskusi dipandu oleh Ir. Deni Prasetio Nugroho, S.T., M.T., IPM selaku Peneliti Pustral UGM. Sebanyak 10 penanya terbaik mendapatkan hadiah berupa buku Pembangunan Jalan Tol Hijau Sebagai Peluang Bisnis Bidang Konservasi Lingkungan karya Prof Dr. Ir. Chafied Fandeli dan Budiyono, S.P., S.T., M.A., M.Si.  (DAK/SDD)

 

 

Leave A Comment

Your email address will not be published.

*