
Bencana hidrometeorologi dahsyat di Sumatera—khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—yang terjadi sejak akhir November lalu menjadi peringatan keras dan pelajaran yang sangat mahal. Data BNPB per 14 Desember 2025 menunjukkan fakta yang memilukan: 1.016 korban meninggal dunia, 212 orang hilang, dan lebih dari 1,5 juta warga mengungsi. Angka ini diperparah dengan kehancuran infrastruktur logistik kritis, di mana 271 jembatan rusak dan jalur transportasi darat terputus. Dampaknya langsung yang terasa adalah distribusi terhambat, pasokan terhenti, hingga memicu kepanikan sosial di tengah masyarakat.
“Namun, di balik angka kemanusiaan tersebut, terdapat krisis sistemik yang perlu kita bedah sebagai masyarakat transportasi dan logistik. Terputusnya jalur vital Banda Aceh–Lhokseumawe hingga lumpuhnya operasional simpul transportasi akibat banjir, telah mematikan urat nadi distribusi kita. Hal ini berdampak nyata pada kelangkaan pasokan dan lonjakan harga, bahkan sempat memicu insiden penjarahan gudang pangan di Sumatera Utara akibat keterlambatan bantuan,” demikian disampaikan oleh Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., P.hD., selaku Caretaker Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM pada pembukaan Webinar “Membangun Ketahanan Logistik Pangan dan Energi Sumatera yang Tangguh Bencana: Analisis Krisis, Kebijakan, dan Strategi ke Depan”.
Webinar diselenggarakan Selasa, 23 Desember 2025, pukul 08.30 – 11.30 WIB, menghadirkan Dr. Ir. Nani Hendiarti, M.Sc selaku Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan, Kemenko Pangan RI, yang membedah kebijakan cadangan pangan dan tantangan operasional di lapangan. Pembicara selanjutnya adalah Bapak Hari Purnomo, Direktur Rekayasa dan Infrastruktur PT Pertamina Patra Niaga, yang berbagi pengalaman langsung dari garda terdepan ketahanan energi, termasuk strategi pemulihan pascabencana; serta Prof. Dr. Kuncoro Harto Widodo, S.TP., M.Eng, Guru Besar Manajemen Logistik dan Rantai Pasok FTP UGM sekaligus Tim Ahli Pustral UGM, yang memberikan analisis mendalam tentang kerentanan infrastruktur transportasi dan peta jalan penguatan ketahanan logistik.
Dalam paparannya Dr. Ir. Nani Hendiarti, M.Sc menyampaikan bahwa swasembada pangan dan pembangunan berbasis komunitas adalah mandat sebagai bagian dari Astacita, khususnya Prioritas Nasional 2 yaitu Memantapkan Sistem Pertahanan Keamanan Negara dan Mendorong Kemandirian Bangsa melalui Swasembada Pangan, Energi, Air serta Prioritas Nasional 6 yaitu Membangun dari Desa dari Bawah. Bencana alam tidak hanya merusak ekosistem tetapi dapat mengancam ketahanan pangan nasional.
Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Provinsi Aceh, Sumut dan Sumbar dari total stok cadangan beras BULOG sebesar 3,35 juta ton, cadangan beras di Provinsi Aceh sebesar 81 ribu ton, Sumatera Utara sebesar 35 ribu ton dan Sumatera Barat sebesar 7.7 ribu ton. Tantangan yang dihadapi untuk menyalurkan bantuan diantaranya adalah infrastruktur konektivitas yang rusak, kelangkaan BBM untuk logistik dan genset, mati daya listrik tegangan tinggi dari PLN, daya angkut helikopter yang terbatas, serta sebaran lokasi gudang pangan yang terbatas. “Pemerintah c.q Bapanas juga telah mengirimkan CBP Bencana Alam ke 3 provinsi sejumlah 24 ribu ton. Namun karena kendala transportasi, distribusi bantuan pangan baru mencapai 10.000 ton,” demikian disampaikan oleh Nani.
Hari Purnomo, selaku pembicara selanjutnya menyampaikan bahwa Pertamina Patra Niaga (PPN) menyiapkan tiga skenario untuk pengangkutan BBM baik minyak maupun gas, yaitu pola Reguler, Alternatif, dan Emergency. Wilayah terdampak bencana di Aceh meliputi wilayah Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues; di Sumatera Utara meliputi Tarutung dan Padang Sidempuan, sementara di Sumatera Barat mencakup Bukittinggi, Kajai, dan Pasaman Barat.
Upaya penanganan yang dilakukan oleh PPN diantaranya adalah Perbantuan Armada Angkut BBM dengan Mekanisme estafet mobil tangki dari RJBT – RJBB – FT Panjang – IT Dumai – FT Medan – IT Lhokseumawe – FT Kr. Raya – FT Meulaboh. Sudah dilakukan tambahan 54 Mobil Tangki BBM dengan 44 unit secara estafet dan 10 unit non-estafet (dari Terminal di Regional yang sama). Semua unit telah tiba dan beroperasi sebanyak 100%. Selain itu ada tambahan 137 Awak Mobil Tangki (AMT) Perbantuan dari antar Terminal Sumbagut, RJBB, RJBN, Sumbagsel, Kalimantan, dan Sulawesi.
Upaya penanganan lain adalah Perbantuan Armada Angkut LPG dengan mekanisme estafet armada skid tank LPG dari Jatimbalinus – RJBT – RJBB – Aceh. Sebanyak 9 dari 20 Skid Tank LPG sudah tiba dan beroperasi di wilayah Aceh, sedangkan 11 Skid Tank lainnya dalam perjalanan menuju ke Aceh. “Untuk pertama kalinya pula, Pertamina mengerahkan helikopter Sikorsky S-61A dengan metode sling load yang memungkinkan tabung Bright Gas diangkut tanpa helikopter harus mendarat, demikian disampaikan oleh Hari Purnomo.
Prof Kuncoro selaku pembicara ketiga menyampaikan beberapa isu utama transportasi dan logistik dalam krisis bencana hidrometeorologi di Sumatera. Isu utama yang pertama adalah kerentanan infrastruktur transportasi dan logistik penting dan gangguan rantai pasok. Simpul vital (choke points) dan jaringan transportasi dan logistik pangan dan energi Sumatera belum dipetakan dan dikelola dengan mempertimbangkan kerentanan tinggi terhadap multi-bencana, sehingga setiap gangguan mengakibatkan masalah pada rantai pasok kawasan Sumatera bagian utara.
Isu utama kedua adalah terlambatnya bantuan logistik pangan dan energi di lokasi terdampak bencana. Terdapat kendala koordinasi antara pemerintahan pusat dan daerah, serta terdapat perbedaan persepsi skala bencana antara pemerintah pusat dan daerah sehingga berpengaruh pada skala dan sumber bantuan kepada korban bencana. Sementara isu utama ketiga adalah desain simpul dan jaringan transportasi dan logistik yang tangguh dan adaptif. Sistem transportasi dan logistik sangat tergantung pada beberapa simpul dan jaringan utama yang rentan. Tanpa cadangan rute alternatif yang memadai, mudah lumpuh total apabila terjadi bencana melanda seperti saat ini.
Untuk mengatasi isu-isu penting tersebut, Kuncoro memberi beberapa rekomendasi baik untuk diimplementasikan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Isu pertama menunjukkan bahwa simpul dan jaringan transportasi terdampak bencana sehingga menyebabkan gangguan terhadap ketahanan pangan-energi di kawasan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dalam jangka pendek perlu pembersihan jalan longsor dan pembangunan jembatan sementara. Dalam jangka panjang perlu peningkatan status jalur alternatif, penguatan jembatan utama sementara, serta rekonstruksi jalan terdampak banjir.
Isu kedua menunjukkan bahwa perlu penyamaan persepsi skala kebijakan, pembagian peran dan penguatan koordinasi antar pihak dalam penanggulangan bencana. Untuk itu perlu penguatan koordinasi dan kolaborasi antar pihak (pemerintah pusat, pemerintah daerah, LSM, Relawan, Donatur, Penyedia jasa logistik, TNI & Polri). Sementara isu ketiga menunjukkan bahwa simpul dan jaringan transportasi dan logistik yang tangguh dan fleksibel adalah jaringan transportasi yang memiliki ketahanan, mampu beradaptasi, dan menjaga konektivitas masyarakat dalam keadaan darurat. “Dalam jangka pendek perlu tanggap darurat cerdas dalam bentuk dynamic routing dan humanitarian logistics hubs, sementara dalam jangka panjang perlu redundansi dan desentralisasi dalam bentuk network redundancy, centralized decentralized warehousing, serta penguatan konektivitas antar pelabuhan,” demikian Kuncoro menutup uraiannya.
Webinar ini dihadiri oleh 450 peserta dari berbagai kalangan yang berdiskusi secara aktif. Acara dipandu oleh moderator Sa’duddin, S.Si., M.B.A., M.Sc., selaku Kepala Divisi Pelatihan dan Seminar serta Peneliti Pustral UGM. Pada akhir sesi, disimpulkan bahwa ketahanan pangan dan energi di Sumatera yang tangguh bencana memerlukan tiga hal utama: (1) penguatan cadangan pangan, (2) desain logistik yang adaptif, serta (3) koordinasi kolaboratif lintas sektor. Langkah-langkah tersebut diperlukan untuk memitigasi dampak bencana hidrometeorologi secara efektif. (DAK)