
Indonesia berhadapan dengan realitas fiskal yang menantang. Untuk mencapai target pembangunan, Indonesia membutuhkan investasi infrastruktur yang diperkirakan mencapai USD 625 miliar dalam lima tahun ke depan. Kenyataannya, APBN kita diproyeksikan hanya mampu menutupi sekitar 40% dari kebutuhan tersebut. Angka ini bukan sekadar statistik; kita telah melihat dampaknya secara langsung pada volatilitas anggaran Kementerian Pekerjaan Umum tahun ini, yang memerlukan penyesuaian program terhadap anggaran infrastruktur 2025. Demikian disampaikan oleh Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D. selaku Kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM pada webinar “Mengoptimalkan Teknologi dan Digitalisasi dalam Proyek Infrastruktur: Membangun Masa Depan yang Lebih Efisien.”
Webinar diselenggarakan Rabu,25 Juni 2025 pukul 08.45 – 11.30 WIB melalui zoom meeting dan ditayangkan pula pada kanal YouTube pustralugm. Webinar menghadirkan narasumber Ibu Amy Rachmadhani Widyastuti, selaku VP Digital Construction dari PT. Hutama Karya, dan Bapak Arief Setiawan Budi Nugroho, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi Universitas Gadjah Mada dan Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan UGM. Selain itu hadir pula Ibu Tantri Nastiti Handayani selaku moderator dan juga dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan.
Ibu Amy Rachmadhani Widyastuti selaku pemapar pertama menyampaikan bahwa Tantangan Industri Konstruksi Indonesia 2025 dapat dilihat dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD Tahun Anggaran 2025. Inpres tersebut menyampaikan bahwa anggaran Pemerintah hanya mampu memenuhi 40% dari nilai total kebutuhan investasi sebesar 10.302 T. Hal ini berdampak pada efisiensi Anggaran APBN di bidang Infrastruktur menjadi 73,76 T, yang tentu berdampak pada berbagai aspek, termasuk Sumber Daya Manusia.
Salah satu upaya untuk Mencapai Efisiensi Proyek Konstruksi adalah dengan Pendekatan Multidisiplin melalui sinergi antara digital construction (DC) dengan beberapa aspek lain seperti project management & lean construction untuk mencapai output proyek yang optimal. DC mencakup integrasi alat, teknologi, dan proses digital, mencakup Building Information Modeling (BIM), Digital Twin, Geographic Information System (GIS), Internet of Things (IoT), dan Big Data. Project management merupakan penerapan pengetahuan, keterampilan, alat, dan teknik terhadap aktivitas proyek untuk memenuhi persyaratan proyek. Sementara lean construction merupakan pendekatan manajemen proyek yang bertujuan mengurangi pemborosan sumber daya, termasuk waktu, material, dan tenaga kerja. Proses & Teknologi DC mendukung visualisasi, validasi, monitoring, kolaborasi, dan safety. Peran Lean Construction adalah mendukung Project Planning & Controlling untuk meningkatkan efisiensi dengan pengurangan limbah.
Meskipun demikian, Amy menyampaikan berbagai tantangan Penerapan BIM–IoT, diantaranya Fragmentasi Data & Sistem yang kurang Interoperable, Keamanan Data (Cybersecurity), Kurangnya tenaga ahli multidisiplin BIM & IoT, Investasi awal tinggi dan ROI yang tidak langsung, Skalabilitas dan Kompleksitas, Data Overload & Noise dari sensor dan Siklus hidup asset vs umur teknologi. Penerapan DC dalam berbagai proyek Hutama Karya misalnya pada jalan tol Trans Sumatera sepanjang ± 862,2 km (telah beroperasi) dan ± 246,3 km (dalam konstruksi), dengan nilai USD 37,5 Milyar. Penerapan juga telah dilakukan pada berbagai proyek lain, baik dalam tahap perencanaan, operasi, maupun pemeliharaan.
Sebagai penutup, Amy menyampaikan Strategi Integratif penerapan DC dengan prinsip “From Visual to Value”, diantaranya Fokus ke Proyek Strategis Berbasis Risiko & Value; Shift dari CAPEX (bangun) ke OPEX (rawat dengan cerdas); Pengambilan Keputusan Berbasis Dashboard Digital; Mulai dari Skala Kecil, Uji ROI, Lalu Skala; serta Bangun SDM & Budaya Data.
Arief Setiawan sebagai pembicara selanjutnya menyampaikan tema Penggunaan BIM + GIS + Image-Processing App untuk konstruksi yang berkelanjutan. BIM fokus pada detail bangunan (level mikro): struktur, MEP, komponen. GIS fokus pada konteks spasial (level makro): lokasi, topografi, zonasi, jaringan jalan, cuaca. Integrasi kedua pendekatan tersebut diharapkan menghasilkan pemahaman menyeluruh proyek dalam konteks lingkungannya.
Arief menyampaikan kesamaan BIM dan GIS (Liu et al., 2021) adalah sebagai berikut: Buat model lingkungan dalam 3D, Sistem informasi menggabungkan atribut dan geometri, Model fitur indoor dan outdoor, Data dapat dikelola dalam sistem manajemen basis data, Alat pengeditan dan manajemen data spasial dan non-spasial disediakan, Visualisasi 2D dan 3D, Mewakili kata apa adanya, tetapi juga memodelkan representasi historis dan masa depan, serta Model pada berbagai skala dan detail.
Sementara perbedaan keduanya adalah, dari sisi kompleksitas geometris GIS menggambarkan bangunan tunggal hanya berisi beberapa elemen, sementara BIM menggambarkan bangunan tunggal berisi ribuan elemen. Dari sisi fitur dan atribut, GIS menggambarkan fitur spasial apapun, atribut apapun, sementara BIM fokus pada fitur yang menarik untuk konstruksi. Dari aspek manajemen data, GIS fokus pada aliran data dalam data spasial Infrastruktur (kualitas data, validasi, tanggung jawab), database, berbagi data, sementara BIM fokus pada manajemen data untuk situs proyek/ Fokus pada fungsionalitas data dalam perangkat lunak asli penyimpanan berbasis file. Dari sisi pemain kunci, GIS didominasi oleh Pemerintah, sementara BIM didominasi industri. Dari sisi keterbukaan data, GIS berupa data terbuka, berbagi data dipandang sebagai barang publik, sementara BIM berbagi data cukup kompleks, karena manfaat untuk berbagi tidak selalu jelas. Dari sisi representasi geometris, pada GIS geometri diukur (B-Rep), sementara pada BIM geometri dirancang (parametrized). Terakhir, dari sisi georeferensi, pada GIS menggunakan georeferensi global, sementara BIM menggunakan feoreferensi lokal.
Webinar dihadiri oleh sekitar 825 peserta dari berbagai kalangan. Webinar memberikan 3 buku Jalan Tol Hijau terbitan Pustral UGM kepada 3 penanya terbaik. (DAK/HLT).