
Perubahan iklim dan pemanasan global menempatkan sektor industri pada posisi krusial untuk segera bertransformasi, tak terkecuali industri infrastruktur dan konstruksi. Secara global, sektor bangunan dan konstruksi tercatat bertanggung jawab atas sekitar 38% dari total emisi karbon dioksida. Di Indonesia, agenda percepatan pembangunan infrastruktur—terutama jalan tol yang tumbuh sangat masif dalam satu dekade terakhir untuk memajukan konektivitas nasional—membawa tantangan lingkungan yang serius.
Pembangunan perkerasan jalan tol menuntut volume material yang sangat besar. Praktik konstruksi konvensional yang masih menganut model ekonomi linear—yakni mengambil bahan baku dari alam, menggunakannya, lalu membuangnya sebagai limbah—telah mengakibatkan eksploitasi besar-besaran terhadap material primer seperti batu agregat, aspal minyak bumi, dan semen. Di sisi lain, proses ini juga menghasilkan jutaan ton limbah konstruksi yang membebani daya dukung lingkungan hidup.
Menjawab tantangan mendesak ini, Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dengan HK ExperTalk dari PT Hutama Karya (Persero) menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “Circular Economy in Infrastructure: Material Daur Ulang untuk Konstruksi Jalan Berkelanjutan” secara virtual pada Selasa (7/7/2026). Forum strategis ini mempertemukan para pakar, pembuat kebijakan, dan praktisi industri untuk merumuskan masa depan pembangunan jalan bebas hambatan yang lebih hijau. Antusiasme terhadap isu ini tampak dari partisipasi lebih dari 1.700 peserta dari berbagai kalangan di seluruh Indonesia yang mengikuti webinar melalui Zoom dan kanal YouTube.
Urgensi Perubahan Paradigma Konstruksi
Dalam sambutan pembukanya, Kepala Pustral UGM, Dr. Ir. Dewanti, M.S., menggarisbawahi urgensi perubahan paradigma di sektor infrastruktur. Ia menekankan bahwa transisi menuju ekonomi sirkular bukan lagi sekadar opsi keberlanjutan (sustainability option), melainkan sebuah kewajiban moral dan teknis bagi masa depan pembangunan nasional.
“Pendekatan ekonomi sirkular menantang kita untuk mendesain ulang sistem konstruksi. Konsep ini bertujuan mengeliminasi limbah sedari awal perencanaan dan mempertahankan nilai sumber daya, material, serta produk selama mungkin di dalam siklus ekonomi. Melalui strategi reduce, reuse, dan recycle, kita tidak hanya menyelamatkan lingkungan dari kerusakan, tetapi juga menciptakan efisiensi pembiayaan proyek jangka panjang yang sangat signifikan,” tegas Dr. Dewanti di hadapan ratusan peserta yang hadir secara daring.
Tantangan Regulasi dan Standar Keamanan Jalan
Mengadopsi material daur ulang untuk jalan tol tentu memiliki tantangan tersendiri, terutama menyangkut standar keselamatan lalu lintas. Mewakili pemerintah dari sisi penyedia infrastruktur, Penata Kelola Jalan dan Jembatan (PKJJ) tingkat Ahli Madya, Direktorat Jalan Bebas Hambatan (JBH) Kementerian Pekerjaan Umum, Dr. Ir. Alfa Adib Ash Shiddiqi, ST. MSc, IPM, memaparkan bagaimana negara mengakomodasi inovasi ini.
Menurut Alfa, Kementerian PU sangat terbuka dan terus mendorong penggunaan material alternatif ramah lingkungan dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Namun, ia menegaskan bahwa jalan tol adalah infrastruktur vital dengan beban lalu lintas berat dan kecepatan tinggi, sehingga tidak ada ruang untuk kompromi terhadap kualitas.
“Pemanfaatan material daur ulang harus selalu diiringi dengan pembuktian teknis yang presisi. Kinerja perkerasan jalan, ketahanan terhadap cuaca, keawetan struktural, hingga aspek keselamatan pengguna jalan tetap menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, kita membutuhkan pedoman teknis dan pembaruan spesifikasi standar yang mampu mewadahi material sirkular ini tanpa menurunkan standar mutu infrastruktur nasional,” jelas Alfa.
Infrastruktur Sebagai Solusi Krisis Sampah Nasional
Dari perspektif ekologi, transisi sirkular pada jalan tol menawarkan solusi ganda bagi Indonesia. Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular, Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Rusly, S.PI., M.Si., membedah potensi infrastruktur jalan sebagai sarana penyerapan limbah berskala raksasa.
Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan besar terkait pengelolaan sampah domestik, khususnya limbah plastik bernilai rendah yang sulit didaur ulang, serta limbah ban bekas yang menumpuk. Agus menyoroti bahwa mencampurkan cacahan plastik atau serbuk karet ban bekas ke dalam aspal tidak hanya menyelamatkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dari kondisi kelebihan kapasitas (overload), tetapi juga mencegah polusi lingkungan dan kebocoran sampah ke laut.
“Sektor infrastruktur dapat menjadi off-taker (penyerap) utama bagi limbah-limbah ini. Jika setiap kilometer jalan tol baru mampu menyerap sekian ton limbah plastik atau ban bekas, serta memanfaatkan limbah industri lainnya, maka pembangunan infrastruktur akan menjadi ujung tombak penyelesaian krisis sampah di Indonesia,” papar Agus.
Praktik Nyata di Lapangan: Pengalaman Hutama Karya
Teori dan regulasi tersebut telah mulai diterapkan di lapangan. Direktur Operasi III PT Hutama Karya (Persero), Iwan Hermawan, membagikan rekam jejak perusahaan dalam memelopori konstruksi jalan yang berkelanjutan. Sebagai BUMN yang memegang mandat pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dengan total panjang ruas terbangun mencapai 1.145 km per Mei 2026, PT Hutama Karya (Persero) aktif menerapkan transformasi operasional berbasis empat pilar keberlanjutan.
Pilar pertama, inovasi material. Perusahaan berhasil memproduksi White-100 Thermoplastic Road Marking berbasis gondorukem dan gliserol sawit lokal untuk menggantikan komponen impor. Hutama Karya juga menguji teknologi hollow column (kolom berongga) pada struktur jembatan yang mampu mereduksi berat beton sebesar 20 persen dan memangkas biaya konstruksi hingga 9 persen. Pilar kedua, efisiensi energi. Melalui anak usahanya, PT Hakaaston, perusahaan mengonversi energi operasional unit Asphalt Mixing Plant (AMP) ke Compressed Natural Gas (CNG) sehingga biaya energi turun hingga 50 persen.
Pilar ketiga, konstruksi digital. Perusahaan menerapkan Building Information Modelling (BIM) hingga dimensi 7D dan kecerdasan buatan (AI). Salah satunya diaplikasikan pada proyek Jalan Trans Papua yang sukses mengoptimalkan biaya konstruksi hingga USD 1.015.600 serta mereduksi emisi karbon sebanyak 49.672 kg CO₂. Pilar keempat, manajemen aset sirkular. Perusahaan mengoperasikan ekosistem digital terpadu melalui platform Mozy untuk mengintegrasikan inspeksi lapangan dan pemeliharaan prediktif berbasis data visual AI guna memperpanjang umur pakai infrastruktur.
Validasi Akademis dan Rekomendasi Strategis
Untuk memastikan inovasi material tersebut benar-benar aplikatif, tinjauan teknis dan akademis sangat diperlukan. Tim Ahli Pustral UGM sekaligus Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan UGM, Taqia Rahman, S.T., M.Sc., Ph.D., mempresentasikan temuan-temuan mutakhir dari laboratorium pengujian material.
Taqia mematahkan stigma bahwa “barang daur ulang berarti barang berkualitas rendah”. Berdasarkan berbagai riset rekayasa teknik sipil, material turunan limbah seperti plastik dan karet justru mampu meningkatkan properti fisik aspal. “Sebagai contoh, aspal yang dimodifikasi dengan campuran limbah plastik tertentu terbukti memiliki titik lembek yang lebih tinggi. Artinya, jalan tersebut akan lebih tahan terhadap deformasi atau kerusakan alur (rutting) akibat beban kendaraan berat dan suhu tropis yang panas,” jelas Taqia.
Dipandu oleh Peneliti Pustral UGM, Kayyisa Fitri, S.Ars., M.T., sebagai moderator, sesi diskusi berjalan interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Diskusi ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan material daur ulang dalam konstruksi jalan menjadi strategi utama untuk mewujudkan infrastruktur yang efisien, rendah emisi, berkualitas, dan berkelanjutan menuju Indonesia Hijau 2045.
Webinar nasional ini diakhiri dengan kesepakatan bersama untuk segera merumuskan rekomendasi langkah strategis yang akan diserahkan kepada pemangku kebijakan. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat mempercepat pembaruan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan menciptakan ekosistem industri konstruksi jalan tol yang tidak hanya berfokus pada kecepatan pembangunan fisik, tetapi juga pada warisan kelestarian lingkungan hidup bagi generasi mendatang. (DAK)