Kawasan Jeron Beteng Yogyakarta merupakan kawasan heritage strategis yang memiliki nilai budaya tinggi, baik secara tangible maupun intangible, serta berperan penting dalam identitas kota dan filosofi Sumbu Filosofis Yogyakarta. Di sisi lain, kawasan ini menghadapi tekanan pembangunan, peningkatan aktivitas pariwisata, serta tingginya intensitas pergerakan yang berimplikasi pada peningkatan emisi karbon dan penurunan kualitas lingkungan kawasan.
Upaya pengembangan Kawasan Rendah Emisi (KRE) di Jeron Beteng menjadi pendekatan strategis untuk menjawab tantangan tersebut, dengan mengintegrasikan pelestarian budaya, pengelolaan tata ruang dan mobilitas, serta transisi energi bersih. Konsep KRE tidak dimaksudkan sebagai pembatas aktivitas kawasan, melainkan sebagai kerangka pembangunan berkelanjutan yang menjaga keseimbangan antara keberlanjutan lingkungan, sosial, dan budaya.
Memperhatikan hal penting tersebut, Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM didukung oleh Viriya ENB, sebuah lembaga nirlaba di Jakarta, beserta Pusat Studi Energi (PSE) UGM dan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) menyelenggarakan Deklarasi Arah Baru Jeron Beteng Kraton Yogyakarta Menuju Kawasan Rendah Emisi (KRE). Event Pengenalan Inisiatif KRE Jeron Beteng dirancang sebagai satu rangkaian kegiatan yang saling melengkapi, untuk memperkenalkan strategi yang direncanakan kepada publik dan pemangku kepentingan yang lebih luas.
Pengenalan inisiatif dilakukan dengan mengikuti kegiatan walking tour dan penggunaan layanan Si Thole dan becak listrik untuk merasakan pengalaman langsung dalam inisiatif KRE Jeron Beteng. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan pengembangan KRE Jeron Beteng tidak hanya berhenti pada tataran konsep, tetapi bergerak menuju aksi nyata yang terkoordinasi, kontekstual dengan nilai budaya, serta mendapatkan legitimasi sosial yang kuat.
Prof. Ir. Ikaputra, Ph.D dari Pustral UGM dalam sambutannya mengatakan Jeron Beteng dipilih karena secara historis telah mempraktikkan prinsip kawasan rendah emisi sejak lama. Hal ini sejalan dengan filosofi Keraton Yogyakarta yang ramah lingkungan dan minim polusi.
“Apabila kita masuk kompleks Kraton atau Cepuri, tidak ada kendaraan bermotor yang masuk. Semua berjalan kaki, sehingga tidak ditemukan kebisingan, bahkan dapat didengar kicauan burung. Jadi praktik untuk mendorong kawasan rendah emisi yang sudah dilakukan sejak zaman dulu oleh Keraton,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DIY Chrestina Erni Widyastuti menyatakan Gerakan Kawasan Rendah Emisi di Jeron Beteng akan dilakukan secara bertahap dan memerlukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kraton Yogyakarta sebagai pemilik wilayah. “Program ini menindaklanjuti pengurangan emisi karbon yang sudah di Malioboro. Dapat dilihat, kemacetan di Jeron Beteng terjadi karena banyak kendaraan pribadi yang masuk,” ujarnya. Menurut Erni, pembatasan kendaraan bermotor nantinya tidak serta-merta melarang warga, namun akan mengatur akses kendaraan pribadi ke dalam kawasan. Sosialisasi kepada masyarakat menjadi langkah penting agar tujuan low-emission zone dapat dipahami bersama.
Dalam kesempatan ini Ibu Suzanty Sitorus selaku Direktur Eksekutif Viriya ENB menyatakan sangat mendukung program yang dilakukan. Beliau menyampaikan terkesan dengan tagline yang diambil dalam deklarasi, yaitu “Nyawiji Tanpa Emisi, Tradisi Luwih Lestari”, serta menambahkan dengan “Yogyakarta selalu Menginspirasi”.
Hadir pula memberikan sambutan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIY Ibu Anna Rina Herbranti, serta Dr. Ir. Dewanti MS dari Pustral UGM sebagai salah satu anggota tim kajian. Semua pihak berharap program dapat berjalan dengan baik dan memberikan kemanfaatan yang optimal bagi semua pihak.
Acara diselenggarakan Minggu, 1 Februari 2026 bertempat di Plaza Pasar Ngasem dalam suasana hujan, namun tidak mengurangi semangat peserta. Sebelumnya para peserta berkumpul di lapangan parkir Ngabean lalu menggunakan Si Thole dan becak listrik menuju Kampung Musikanan, dan selanjutnya berjalan kaki menuju Pasar Ngasem. Acara dihadiri oleh perwakilan dari pemerintah daerah dan pengelola kawasan, komunitas dan pelaku budaya, pengguna transportasi dan mobilitas harian, pelaku usaha dan sektor energi, serta akademisi.


