
Saat ini disadari semakin nyata dan kompleksnya dampak perubahan iklim terhadap infrastruktur transportasi, khususnya jalan. Pola hujan ekstrem, banjir, longsor, kenaikan muka air laut, dan tekanan termal pada material perkerasan telah menantang pendekatan desain konvensional yang selama ini sangat bergantung pada data historis. Kondisi ini menuntut hadirnya pendekatan baru yang lebih adaptif, antisipatif, dan berkelanjutan dalam perencanaan, pembangunan, maupun pengelolaan infrastruktur jalan.
Dalam konteks Indonesia, tantangan tersebut menjadi semakin besar karena kondisi geografis yang sangat beragam, mulai dari wilayah pegunungan yang rawan longsor, kawasan pesisir yang menghadapi banjir rob, hingga daerah dengan curah hujan tinggi yang dapat mempercepat kerusakan badan jalan dan mengganggu konektivitas antarwilayah. Oleh karena itu, ketahanan infrastruktur jalan terhadap perubahan iklim tidak lagi dapat dipandang sebagai isu teknis semata, tetapi juga sebagai bagian penting dari agenda pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Demikian disampaikan oleh Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D, selaku Caretaker Kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM dalam webinar “Resilient Roads: Infrastructure Adaptation Against Climate Change” yang diselenggarakan pada Rabu, 4 Maret 2026. Webinar terselenggara atas kerjasama Pustral UGM dan HK EpxperTalk PT Hutama Karya (Persero).
Pembicara pertama, Ir. Pantja Dharma Oetojo, M.Eng.Sc., Direktur Bina Teknik dan Jembatan, Direktorat Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum menyampaikan tema Teknologi Infrastruktur Jalan Berketahanan Iklim. Praktik yang sedang berlangsung di Indonesia Menuju Infrastruktur Jalan yang Berkelanjutan dan Berketahanan Iklim diantaranya adalah Deteksi kerusakan perkerasan jalan berbasis AI dan pemantauan kondisi jalan, Sistem manajemen jalan berbasis kinerja, Penggunaan material perkerasan lokal untuk meningkatkan keberlanjutan, serta Penerapan teknologi ramah lingkungan. Secara prinisp, langkah-langkah tersebut merupakan pPerpaduan inovasi digital dengan adaptasi material. Pantja juga menyampaikan, “Harapan Pendekatan Terpadu untuk Infrastruktur Jalan Berkualitas di Masa Depan diantaranya adalah masa pakai perkerasan jalan yang lebih lama, peningkatan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim, dan mengurangi biaya dan emisi sepanjang siklus hidup produk. Peluang kolaborasi diharapkan juga dapat terjadi, diantaranya berupa evaluasi kinerja meterial, proyek percontohan integrasi digital material, serta kolaborasi dengan negara lain”.
Bapak Kun Hartawan Adi Satria, Plt. Direktur PT Hutama Membelin Trans Papua menyampaikan materi bagaimana PT Hutama Karya telah menyiapkan resilient road pada Proyek KPBU Trans Papua Segmen Mamberamo- Elelim Papua Pegunungan. Tindakan Antisipasi Iklim telah dilakukan sejak Tahap Perencanaan. Elevasi badan jalan dan struktur jembatan dirancang sesuai analisis hidrologi untuk memastikan ketahanan terhadap banjir, aliran deras, serta perubahan kondisi tanah akibat cuaca ekstrem. Tindakan Antisipasi Iklim & Risiko, Strategi Perencanaan Teknis dilakukan dengan beberapa pemutakhiran desain, diantaranya Perencanaan sistem drainase berkapasitas tinggi untuk mengantisipasi curah hujan ekstrem dan elevasi badan jalan untuk menghindari genangan, Desain perkuatan lereng seperti soil nailing,dan geotekstil guna menjaga stabilitas tanah; serta Penentuan trase berdasarkan analisis geoteknik dan Hidrologi. “Tindakan Antisipasi Iklim & Risiko juga dilakukan melalui Pengawasan Mutu & K3 (Keamanan dan Keselamatan Kerja),” demikian disampaikan oleh Kun.
Pembicara terakhir, Ir. Mukhammad Rizka Fahmi Amrozi, S.T., M.Sc., Ph.D., Tim Ahli Pustral dan Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan UGM menyampaikan materi Road Asset Management Strategies To Adapt With Climate Change. Infrastruktur Tangguh (Resilient Infrastructure) dipandu oleh beberapa prinsip dasar yang memastikan sistem dapat bertahan dan pulih dari gangguan sambil terus melayani masyarakat secara efektif. Prinsip-prinsip inti Kekokohan, yaitu kekuatan fisik dan integritas struktural infrastruktur untuk menahan tekanan dan guncangan tanpa kehilangan fungsi yang signifikan. Prinisp selanjutnya adalah Redundansi, yaitu kehadiran sistem cadangan, rute alternatif, atau kapasitas cadangan yang memungkinkan operasi berlanjut meskipun beberapa komponen gagal. Terakhir adalah Keberlanjutan, yaitu mengintegrasikan pertimbangan lingkungan, ekonomi, dan sosial untuk memastikan bahwa langkah-langkah ketahanan mendukung tujuan pembangunan jangka panjang.
Prinsip-prinsip tersebut diharapkan menghasilkan Ketahanan keras, yaitu kekuatan langsung struktur atau institusi ketika ditempatkan di bawah tekanan berupa langkah-langkah penguatan struktur untuk mengurangi kemungkinan keruntuhan mereka. Saat ketahanan meningkat, tingkat kerusakan untuk bahaya intensitas tertentu menurun. Selain itu, prinsip-prinsip tersebut akan menghasilkan ketahanan lunak, yaitu kemampuan sistem untuk menyerap dan pulih dari dampak peristiwa yang mengganggu tanpa perubahan mendasar dalam fungsi atau struktur. misalnya pegas atau sistem hidrolik; rute alternatif, dan lain-lain. Demikian disampaikan Fahmi, mengutip penelitian dari Proag (2014).
Tingginya antusiasme terlihat dari kehadiran lebih dari 2.800 peserta webinar yang mencakup unsur pemerintah, sektor swasta, akademisi, hingga lembaga pembiayaan dari seluruh Indonesia. Sesi pemaparan dan diskusi yang interaktif ini dipandu langsung oleh Ir. Iwan Puja Riyadi, S.T., IPM., Peneliti Pustral UGM, yang bertindak sebagai moderator. Adapun diskusi tersebut menyimpulkan bahwa adaptasi infrastruktur jalan terhadap perubahan iklim mutlak memerlukan pendekatan terpadu. Hal ini dapat diwujudkan melalui inovasi material berkelanjutan, digitalisasi manajemen aset, perencanaan antisipatif, dan penguatan kelembagaan. (DAK)


