Antara Orchard dan Malioboro (Bahasa)

Tepat senin, 4 April 2016, Wali Kota Jogja resmi memberlakukan pengosongan parkir sepeda motor sisi timur Malioboro dan memindahkan di parkir portabel Abu Bakar Ali (ABA). Beberapa media telah memberitakan bahwa pengosongan area parkir sisi timur Malioboro ini telah memberikan suasana nyaman bagi pengunjung.

Langkah walikota dalam Proses pemindahan lokasi parkir yang cukup sulit karena ada beberapa penolakan dari beberapa pihak dan akhirnya mampu terselaikan juga demi mewujudkan Malioboro menjadi pusat pedestrian, patut kita berikan apresiasi.

Malioboro bukanlah sebuah kawasan yang kita pandang sederhana seperti kawasan lain di Yogyakarta bahkan di Indonesia.  Menurut AF Food an Belinda Yuen.(1999) dalam bukunya yang diterbitkan oleh National University Singapore(NUS) yang berjudul Sustainable cities in the 21 Century, kawasan jalan Malioboro telah dibahas dan dipandang untuk disejajarkan kawasan di asia seperti Orchard Road di disingapura.

Persamaan keduanya mungkin yang memiliki karakteristik sebagai tujuan wisata kawasan “street shopping line” dimana wisatawan akan dimanjakan wisata shopping yang lengkap dalam satu ruas jalan, namun yang menjadi catatan AF Food an Belinda Yuen.(1999), masalah pedestrian  malioboro yang komplek dengan parkir kendaraan, banyak mobil dan lainnya belum teratasi menjadi hambatan utama untuk kawasan ini disetarakan dengan orchard road Singapura.

Keberhailan Pedestrian

Penataan pedestrian yang tepat akan memberikan kenyamanan sekaligus menambah magnet luar biasa bagi wisatawan yang berkunjung ke Malioboro. Unsur pedestrian yang harus dipenuhi di Malioboro agar terlihat nyaman yaitu tersedianya ruang berjalan kaki disertai sentuhan arhitektur klasik jogja dan moderenitas di kanan kiri pedestrian sehingga tidak membosankan. Tersedianya pohon yang rindang, konsep konblok andesit dan warna unik klasik, pot tanaman batu andesit, taman kota yang rindang.Juga banyak tempat duduk untuk bersantai, disediakan pemberhentian dan shalter taksi, dan publick transport yang cukup seperti di orchard Singapore, disediakan tempat sampah yang menarik dan selalu bersih, batasi jumlah kendaraan dan tata pedagang yang ada di kawasan tersebut. Tidak lupa pula unsur penanda penunjuk arah, nama jalan dan nama lokasi,nama pertokoan di berikan disetiap sudut pedestrian.

Penataan “street shopping line”Malioboro

Konsep pertokoan dengan “one street shopping line” memang memberikan nilai tambah. Dalam konteks Malioboro, tidak semata “one street shopping line” tapi lebih dari itu, bahwa Malioboro memiliki kekentalan akan unsur klasik, nilai budaya yang tinggi yang sulit dijumpai di pasar-pasar di asia bahkan di dunia. Fakta ini tidak dapat dipungkiri, hingga hari ini pada saat berlibur, orang datang ke jogja selalu Malioboro yang jadi daya pikat mereka.

Kenyataan bahwa Malioboro sebagai street shopping line memang harus kita tata keberadaannya. Kenyamanan dan keistimewaan yang ditawarkan di Malioboro harga mati bagi kita, jika Malioboro ingin disandangkan dengan “street shopping line” di asia. Malioboro yang diharapkan kelak setelah penataan ini, Malioboro menjadi street shopping line dimana tempat keasyikan bertemunya ribuan lautan manusia bershoping dan menikmati suasana klasik Malioboro. Keelokan bersantai disore dan malam hari dibawah pohon rindang, keindahan batu andesit dan patung-patung khas jogja menjadi warna. Ada atraksi budaya, mall yang yang menyajikan showroom perpaduan budaya klasik dan modern, ditemukannya ruang santai kuliner ria dengan makanan tradisional yang mungkin tidak ada di Orchard Road Singapore.

Keistimewaan Jogja

Keberadaan penataan Malioboro yang nyata kedepan akan menjadikan Malioboro sebagai “street shopping line”di Asia. yang suatu saat setiap pagi, siang sore dan malam akan dipadati lautan wisatwan bersantai, berbelanja dan menikmati suasana Malioboro seperti halnya Orchard Road di Singapura. Selamat datang Maliboro Baru, keberadaanmu kelak mengangkat Keistimewaan Jogja. (Eriadi)